Artikel, Umum

#EduMB oleh Harini Tunjungsari, Visual Director MBUI

Salam Marching untuk para pecinta Marching Band di seluruh Indonesia!

Kejuaraan Grand Prix Marching Band 2013 telah usai, tahun baru 2014 telah dimulai, tentunya ini waktu bagi tiap unit marching band mempersiapkan proyek barunya pada tahun ini. Proyek sebelumnya pasti menyisakan berbagai macam pelajaran berharga yang dapat menjadi bekal untuk menjalankan proyek selanjutnya. Kali ini, salah seorang pemberi materi Marching Band Madah Bahana Universitas Indonesia yang sudah berkecimpung selama kurang lebih 15 tahun di dunia marching band, Mbak Harini Tunjungsari yang mempunyai panggilan kesayangan “Kanjeng Mami”, akan sedikit berbagi pelajaran berharga yang beliau dapatkan dan temui selama ada di unit MBUI. Tulisan ini dibuat berdasarkan tweet Mbak Harini pada akun twitternya @atink_harini yang sudah dikumpulkan via chirpstory (http://chirpstory.com/li/180962) dengan beberapa perubahan untuk membakukan penulisan.

Selamat membaca! Salam Marching! 🙂

#EduMB oleh Harini Tunjungsari

Pengantar penulis bagi pembaca yang belum terbiasa dengan dunia marching band:
Di dunia marching band Indonesia, ada sebuah pertandingan marching band tingkat nasional yang rutin diadakan setiap tahun, yaitu Grand Prix Marching Band (GPMB). Peserta lomba tersebut berasal dari berbagai kalangan. Ada yang dari band sekolah misalnya Santa Ursula dengan Putri Santa Ursula Marching Band (PSUMB), SMA Tarakanita dengan Korps Putri Tarakanita (KPT), Bahana Cendana Kartika (BCK) Duri dan Rumbai; ada yang dari band universitas, misalnya UI, UGM, UNY, UII, dll; ada band dengan dukungan dari perusahaan, misalnya Marching Band Bontang Pupuk Kalimantan Timur (MBBPKT), dan Marching Band Bhina Caraka (MBBC) yang didukung Dirjen Bea Cukai; ada band dengan dukungan dari pemda, misalnya Gita Surosowan Banten (GSB); dan ada pula yang berafiliasi pada komunitas tertentu, seperti Marching Band Remaja Istiqlal. Selain itu, masih
banyak band-band lain di Indonesia.


Pada tulisan ini, saya akan menceritakan pandangan saya yang sudah 15 tahun menjadi penggembira di Marching Band Madah Bahana UI (MBUI), tentang hal-hal yang perlu disadari para pemain musik dan penari, yang selanjutnya disebut sebagai pasukan.

####

Di tahun 2013 lalu, tim MBUI nekad membuat konser di Gedung Kesenian Jakarta, dan juga ikut GPMB, sehingga waktu latihan menjadi singkat. Walaupun singkat, namun dengan kerja mati-matian dan doa yang ‘kenceng’, MBUI mendapat posisi 3 alias 2nd runner up. Nah, ini yang akan saya bahas.

Berapa lama sih waktu latihan yang tepat untuk mencapai kualitas permainan (musik+colorguard+visual) yang bagus? Cukupkah 3 bulan? ‘Juara’ itu bergantung pada kesiapan lawan juga. Kalau lagi banyak lawan yang bagus, makin susah jadi juara. Kalau lawan yang bagus tidak banyak, kesempatan menang akan lebih besar.

Akan banggakah kita saat menjadi juara kalau sadar bahwa kualitas kita sebenarnya ngga bagus-bagus banget? Menurut kalian (pasukan MBUI), penampilan terakhir kalian kemarin bagus ngga?

Memang kadang kita bisa terbawa perasaan banget saat mempertunjukkan suatu karya. Kita bisa menangis, tertawa, bersemangat, dan juga bersyukur saat memainkan musik atau menari. Saat itu terjadi, kita merasa penjiwaan kita bagus. Penjiwaan bagus memang dituntut supaya menghasilkan pertunjukan yang keren. Tapi skill tidak boleh dilupakan.

Nah, di GPMB kemarin, skill pasukan MBUI itu sebetulnya belum sesuai yang diharapkan Program Director (PD) dan para Pemberi Materi (PM). Penjiwaan yang bagus memang bisa membantu dalam mengangkat skill. Untuk musik, yang terbantu adalah terciptanya contour dan dinamik (bener ngga, Bud?*)  Tapi ya tetap saja, kalau skill dasarnya kurang, hasil akhirnya kurang juga.

Saya ngga jago untuk mengomentari artikulasi, tone, dan detil-detil musik. Itu biar Nimon, Marko, Andreas Manalu, Rendy, Ditto, dan Budi (para PD, PM dan pelatih -red) aja. Bagaimana cara latihan supaya skill dasar tercapai? Silahkan tanya pada ‘suhu’ masing-masing. Yang saya tahu, kualitas ada hubungannya dengan waktu latihan. Waktu latihan yang cukup panjang dan efektif, disertai umpan balik individual dengan cara yang tepat akan mengangkat skill. Oleh karena itu, berbahagialah band yang punya banyak pelatih berkualitas sehingga bisa memperhatikan SETIAP orang. Nah, band yang pelatihnya sedikit, silakan bikin strategi. Eh, tapi bisa juga sih pelatih banyak tapi kualitas pasukan buruk, kalau tim pelatih tidak kompak, kurang skill, dan pesimis dengan pasukan. Berhati-hati dan realistis mengevaluasi kondisi pasukan itu penting, namun harus diikuti dengan harapan positif dan membangun strategi.

Karena tahu bahwa membangun skill dasar itu tidak bisa sim salabim langsung jadi, maka semua perancang strategi latihan perlu menghitung waktu, dengan tujuan akhir: seluruh pasukan bisa main lagu dengan tingkat kesulitan tinggi dan kualitas bagus secara harmonis dan saling mengisi. Itu sebabnya dalam penilaian ada yang khusus menilai ensamble music, dan ensamble visual. Semua harus padu. Padu berarti tahu kapan section saya main lembut supaya pada detik itu, hitungan itu, posisi itu, yang menonjol adalah section lain, sesuai konsep. Padu berarti tahu saya harus masuk kapan, supaya efek yang saya ciptakan betul-betul sebagai jawaban dari stimulus suara/visual dari section lain. Nah, sebelum bisa padu, berarti skill per individu harus bagus dulu dong. Selain harus memberikan nada/bentuk gerak yang tepat, kita harus tahu keras/lembut suara/gerak diri sendiri dibandingkan orang lain. Tidak bisa hanya mengejar kecepatan atau power saja. Apalagi dalam MB, semua hal itu dilakukan sambil jalan-jalan dalam display. Membahas tentang display, jadi tambah seru. Cara jalan juga harus sesuai dengan karakter lagu/tarian.

Banyak sekali yang harus dikuasai. Makanya saya senang kalau anak kecil masuk MB, karena berarti anak tersebut sejak kecil sudah belajar koordinasi tubuh, sekaligus disiplin.

Dari tadi saya membahas apa saja yang harus dicapai oleh seorang anggota MB, alias pasukan. Nah, bagaimana dengan tim desainer?

Tim desainer perlu kompak banget dalam membahas detil efek dari repertoire. Idealnya tiap detik itu dirancang baik, sehingga semua tahu dan sepakat dengan efek yang dituju. Diskusi intens perlu waktu. Karya perlu waktu untuk membuat dirinya sendiri menjadi dewasa dan matang. Idealnya, karya itu jadi dalam bentuk konsep, dipelajari oleh pemain musik dan penari, lalu ditampilkan, dievaluasi, direvisi, dipelajari lagi. Demikian berulang-ulang sehingga karya itu menjadi lebih kaya variasi, lebih bisa memanfaatkan berbagai unsur, lebih jelas storylinenya.

Anak baru ataupun pelatih baru mungkin frustrasi karena baru belajar satu hal, eh diganti lagi. Padahal revisi itu bisa terjadi karena melihat bahwa kualitas pemain sudah naik setelah sekian kali latian, sehingga tujuan konsep bisa dicapai dengan cara yang lebih baik. Er, sayangnya yang lebih sering saya liat sih revisi terjadi karena pemain/penari tidak berhasil mencapai tuntutan. Jadi revisi dilakukan untuk mempermudah tantangan. Dan itu ga oke.

Naaaahhhh… dari pembahasan di atas, jelas dong bahwa butuh waktu yang lama untuk menghasilkan kualitas yang baik. Masalahnya, kalau kelamaan, pasukannya keburu kabur karena bosen, atau keburu lulus. Jadi gimana dong cara ‘maintain’ pasukan? Kan untuk mendapatkan efek visual dari display, perlu orang dengan jumlah tertentu agar bentuk-bentuk indah tercipta. Begitu juga untuk musik. Perlu jumlah musisi yang seimbang antar section. Seimbang bukan berarti sama banyak ya.

Menurut saya, perlu ada proyek-proyek ‘kecil’ untuk mengeluarkan hasil latihan ‘sementara’ yang disadari kualitasnya belum kualitas pertandingan. Walau masih kualitas sementara, tapi tetap bisa dirancang supaya tampilannya cakep kok. Ini PR besar tim desainer.

Kayanya berat ya jadi pasukan, pelatih, pemberi materi (arranger/koreografer) apalagi jadi project director. Padahal ngga kok. Sama saja dengan cabang olahraga/seni lain. Kalo mau jadi jago, ya harus ada usaha keras. Seberapa keras? Sekeras yang dimungkinkan tubuh dan hati lo. Bukankah dalam hidup, kita hanya benar-benar hidup kalau kita bergerak maju meningkatkan kualitas diri kita? Dalam bidang apapun.

Semoga adik-adik @madahbahana yang mau jadi pasukan, pengurus, pelatih, PM, PD bisa menarik manfaat dari omongan melantur saya di atas (yang aslinya berupa 43 poin kultwit). Selamat latihan!

*Bud yang disapa disini adalah Budi Hartanto @budih85, pelatih battery MBUI

Begitulah serangkaian tweet yang diluncurkan oleh Mbak Harini, dan sudah ditulis kembali oleh redaksi Madah Bahana UI. Semoga bermanfaat dan menjadi bahan instropeksi juga bekal bagi kita untuk mencapai MBUI yang lebih baik. Salam Marching Band Indonesia! :))