Berita Terbaru

Cerita MBIC 2

Setelah meraih kesuksesan dalam Madah Bahana In Concert (MBIC) 1 tahun lalu, Marching Band Madah Bahana Universitas Indonesia (MBUI) kembali menggelar Madah Bahana In Concert (MBIC) 2 di Gedung Kesenian Jakarta pada hari Jumat (05/07) dan terbagi menjadi dua sesi, yaitu siang (pukul 14.30 WIB) dan malam (pukul 20.00 WIB).
 
Mengusung tema “Kerjaku, Kerjamu, Kerja Kita”, MBIC merupakan suatu bentuk apresiasi terhadap kontribusi berbagai macam profesi yang tersebar di Indonesia. Lewat harmonisasi antara musik, tari, dan teater, pagelaran ini mencoba memaknai bahwa tiap individu dengan profesinya masing-masing turut menyumbang peran dan sudah sepatutnya saling bekerja sama membangun tanah air.
 
Sebelum memulai pertunjukan, beberapa peraturan pertunjukan disampaikan melalui pengeras suara dengan cara yang unik, yaitu salam pembuka berbahasa Indonesia, Jawa, Batak, dan Bali.
 
BAGIAN SATU
 
Saat lampu mulai redup dan tirai dibuka, satu per satu pemain musik bermunculan dengan kostum yang merepresentasikan berbagai macam profesi, memainkan lagu “Satu Nusa Satu Bangsa”.
 
Penonton kemudian dibuat terpukau oleh aksi pemain battery yang menggambarkan suasana para pekerja konstruksi, di mana salah satu tokohnya yang bernama Reza mengalami kecelakaan kerja dan harus dilarikan ke rumah sakit.
 
Beragam dinamika emosi hadir dalam rasa sakit yang mendera Reza (gabungan antara tarian kontemporer, solo klarinet oleh Dias Kinanthi, dan permainan brass dan pit percussion), semrawutnya lalu-lalang kendaraan menuju rumah sakit, atmosfir ruang operasi yang mencekam dan ruang lab yang kaku (komposisi asli oleh Yudistira Abjani), serta interaksi tokoh yang bernama Taufiq, ayah dari Reza.
 
Dalam keadaan resah dan gelisah, Taufiq sebagai ayah korban tetap harus menjalani proses konsultasi dokter dan berurusan dengan petugas administrasi keuangan dan obat. Dalam babak ini, dialog antar pemain tidak disampaikan dengan kata-kata, melainkan melalui permainan solo terompet dan iringan instrumen brass lainnya.
 
Setelah babak yang cukup mengaduk emosi tersebut, penonton dihibur oleh aksi musik dan display, serta dibuat tergelak oleh tukang parkir yang kewalahan mengatur kendaraan yang parkir seenaknya, dan mengomel “Kenapa pada parkir di sini lo?! Ngga liat ini parkir mobil jenajah?!”
 
Adegan beralih ke suasana pasar. Kegiatan jual-beli yang disuguhkan secara teatrikal menjadi menarik saat seorang asisten rumah tangga bernama Beti mengira seorang dari sekelompok pengamen (salah satunya Ivan Penwyn “Payung Teduh”) adalah artis terkenal dan mengajaknya foto bersama. Penonton kembali tergelak saat seorang pedagang asongan berceletuk “Cieee.. masukin pesbuk kali neng” ketika Beti memamerkan fotonya pada teman-temannya.
 
Sepulang dari pasar, Beti langsung bercerita pada sahabatnya yang bernama Ipeh melalui SMS. Saat sedang asyik SMS, majikan Beti yang bernama Nyonya Hanny memberi banyak perintah pada Beti. Isi SMS antara Beti, Ipeh, dan Nyonya Hanny yang jenaka ditampilkan secara interaktif di layar panggung.
 
Kesal dengan majikannya yang cerewet, Beti mengeluh pada Ipeh. Namun sayang, SMS tersebut malah terkirim ke telepon seluler Nyonya Hanny. Terjadilah pertengkaran via SMS antara majikan dan asisten rumah tangganya tersebut, yang diilustrasikan melalui permainan duet snare dan drumset. Pertengkaran baru berhenti setelah anak majikan yang bernama Dedek Bella berteriak “Bibiii.. mau susuuu!!”
 
Dalam adegan kantor bernama PT Maju Mundur tempat Hanny bekerja, sekumpulan pemain musik kaliber seperti Eric Awuy, Sehat Kurniawan, Fuji Raharja, Heriawan, dan Andreas Manalu menunjukkan permainan musik yang sungguh memukau.
 
Melihat muka masam rekan kerjanya, tiga orang kolega Hanny mencoba menghibur lewat musik dari laptop dan gadget mereka (aransemen asli oleh Akmal Fauzan, dengan bintang tamu Akmal Fauzan dan Dimas Anindito). Alunan soundtrack Angry Birds, Super Mario Bross, dan Tetris yang dimainkan lewat aplikasi piano dan DJ Mixer pun mengundang tepuk tangan meriah dari penonton.
 
Hanny kemudian memutuskan pergi ke salon untuk melepas lelah. Lagu “Bengawan Solo” yang mengalun lewat petikan gitar Ivan Penwyn “Payung Teduh” dan para pemain brass, mengajak penonton untuk ikut rileks sejenak. Usai babak ini, lampu sorot pun dipadamkan.
 
BAGIAN DUA
 
Saat lampu sorot kembali dinyalakan, penonton dibuat heboh oleh babak “Budaya Pop” di mana pemain guard menarikan koreografi lagu “Heavy Rotation” yang dipopulerkan oleh JKT48 dengan lincah. Tidak ketinggalan para pemain pit percussion yang mengikuti di belakangnya. Terlihat pula seorang mahasiswa tingkat akhir bernama Rendy sedang asyik menirukan koreografi lagu tersebut. Penonton kembali dikejutkan dengan koreografi “Heavy Rotation” versi backward.
 
Tak lama, Rendy diomeli ayahnya karena tak kunjung menyelesaikan studinya. Rendy kemudian mulai menyusun kembali skripsinya yang membahas cinta antara Habibie dan Ainun dalam film dan buku. Penonton pun dibuai oleh adegan romantis sekaligus sendu yang dimainkan dengan indah dalam color guard show, duet penari, penyanyi solo, dan iringan music dari brass dan pit percussion.
 
Adegan berganti menjadi bimbingan skripsi yang berlatar musik Gaudeamus Igitur dari alunan duet biola. Suasana bimbingan berubah drastis saat sang dosen pembimbing memergoki Rendy melakukan plagiat. Adegan dosen yang marah digambarkan melalui permainan solo snare dan tari kontemporer solo.
 
Rendy yang frustrasi akan nasib skripsinya pun terduduk lesu di sebuah bangku halte bis. Dari kejauhan, ia melihat sekelompok mahasiswa sedang melakukan tawuran. Rendy pun segera lari untuk menyelamatkan diri. Berkolaborasi dengan Indo Beatbox (Avo, Sadam, dan Bhisma), adegan tawuran disajikan dalam tarian hip-hop dengan tata cahaya yang memesona.
 
Tak jauh dari situ, di sebuah warung kopi, sekumpulan pemuda sedang bercakap-cakap santai. Dalam dialog yang santai dan humoris di warung kopi inilah terkandung pesan bahwa tiap profesi tidak ada yang sia-sia. Semuanya memiliki kontribusi dalam membangun negeri ini.
 

Pagelaran garapan sutradara Harini Tunjungsari dan project officer Fauzia Ratna Furi ini kemudian ditutup dengan lantunan lagu syahdu “Satu Nusa Satu Bangsa” dan tepuk tangan meriah dari penonton.